BP3MI DKI Jakarta Bersama KP2MI Jajaki Pembentukan
Migrant Center di STIKes Pasar Rebo untuk Dukung Program SMK Go Global
Jakarta, BP3MI DKI Jakarta
(26/10) – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja
Migran Indonesia (BP3MI) DKI Jakarta menghadiri kegiatan penjajakan kerja sama
inisiasi pembentukan Migrant Center dalam rangka mendukung Program SMK
Go Global yang diselenggarakan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Pasar
Rebo, Jakarta Timur, pada Senin (26/10/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal
untuk memperkuat kolaborasi dalam menyiapkan tenaga kesehatan yang kompeten dan
berdaya saing di pasar kerja internasional.
Kegiatan dihadiri oleh Direktur
Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia di Kementerian
Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Abri Danar Prabawa, Kepala BP3MI DKI Jakarta
Arman Muis, Pembina Yayasan Bina Insan Medika Rahmat Dwi Putranto, Ketua STIKes
Pasar Rebo Yuanita Panma, Chief Marketing Officer Deasy Widiantie.
Rangkaian kegiatan diawali dengan
peninjauan ruang kelas serta sarana dan prasarana STIKes Pasar Rebo untuk
melihat kesiapan institusi dalam mendukung pelaksanaan program. Selanjutnya,
Pembina Yayasan Bina Insan Medika memaparkan profil STIKes Pasar Rebo sebagai
perguruan tinggi swasta di bidang kesehatan yang berlokasi di Ciracas, Jakarta
Timur, dan berada di bawah naungan Yayasan Bina Insan Medika.
“STIKes Pasar Rebo berawal dari
Akademi Keperawatan yang berdiri pada 17 Desember 1998 dan bertransformasi
menjadi STIKes pada 2024. Saat ini, kami menyelenggarakan program studi D3
Keperawatan dan S1 Administrasi Kesehatan. Dengan dukungan jejaring mitra rumah
sakit dan orientasi pada kompetensi global, kami berkomitmen menghasilkan
tenaga kesehatan yang profesional, berkarakter, dan berdaya saing,” ujar Rahmat
Dwi Putranto.
Dalam pembahasan selanjutnya,
Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menekankan
pentingnya pembentukan Migrant Center sebagai wadah kolaborasi untuk
mendukung pelaksanaan Program SMK Go Global. Pembentukan pusat ini diharapkan
dapat memperkuat koordinasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan mitra
penempatan dalam menyiapkan calon pekerja migran Indonesia sesuai kebutuhan
pasar kerja luar negeri.
“Pembentukan Migrant Center
menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat sinergi antara lembaga
pendidikan vokasi dan kebutuhan penempatan tenaga kerja di luar negeri. Selain
itu, standardisasi lembaga vokasi diperlukan agar proses pelatihan dan
penyiapan calon pekerja migran Indonesia berjalan lebih terarah, terukur, dan
sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional,” disampaikan Abri Danar
Prabawa.
Sementara itu, Kepala BP3MI DKI
Jakarta Arman Muis menekankan bahwa pelaksanaan program harus didasarkan pada
kebutuhan nyata pemberi kerja (job order). Dengan demikian, pelatihan
yang diselenggarakan dapat selaras dengan kompetensi, persyaratan, dan peluang
penempatan yang tersedia di negara tujuan.
“Pelaksanaan program harus
berangkat dari kebutuhan nyata pemberi kerja atau job order. Hal ini
penting agar kompetensi yang disiapkan melalui pelatihan benar-benar sesuai
dengan persyaratan pekerjaan dan kebutuhan pasar kerja luar negeri. Dengan
begitu, pelatihan tidak hanya menghasilkan tenaga kerja yang terampil, tetapi
juga membuka peluang penempatan yang lebih jelas dan terarah,” tegas Arman
Muis.
Untuk mendukung penyiapan tenaga
kesehatan yang kompeten dan siap bersaing secara global, diperlukan kolaborasi
dengan berbagai pihak, mulai dari rumah sakit, puskesmas, Lembaga Pelatihan
Kerja (LPK), SMK, perguruan tinggi, perusahaan penempatan, hingga mitra luar
negeri. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses peserta terhadap
pelatihan, magang, dan pengalaman kerja yang relevan.
Selain itu, penyiapan tenaga
kesehatan perlu didukung oleh fasilitas pelatihan yang memadai, tenaga pengajar
kompeten, pembelajaran bahasa asing, sertifikasi sesuai standar negara tujuan,
serta perencanaan pembiayaan yang transparan bagi calon pekerja migran
Indonesia. Berbagai aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan
tenaga kesehatan agar mampu memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan pemberi kerja
di luar negeri.
Sebagai tindak lanjut penjajakan
kerja sama, direncanakan percepatan penyusunan nota kesepahaman (Memorandum
of Understanding/MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS), pembentukan struktur
pengelola Migrant Center, serta pemetaan peluang kerja dan identifikasi
calon pemberi kerja. Selain itu, persiapan kelas khusus tenaga kesehatan yang
berorientasi pada pasar kerja global ditargetkan mulai dilaksanakan sebelum
Desember 2026, dengan mempertimbangkan kesiapan mitra dan kepastian kebutuhan
penempatan.
Melalui penjajakan kerja sama
ini, BP3MI DKI Jakarta berharap pembentukan Migrant Center di STIKes
Pasar Rebo dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat pendidikan dan
pelatihan vokasi, sekaligus mendukung Program SMK Go Global dalam mencetak
tenaga kesehatan Indonesia yang kompeten, profesional, dan siap bekerja di luar
negeri secara aman serta sesuai prosedur.